Selasa, 15 Februari 2011

PENDIDIKAN KARAKTER


PENDIDIKAN KARAKTER
 
A.  RASIONEL
Hasil penelitian di IBM menunjukkan, bahwa kualitas manusia ditentukan oleh 90 persen sikapnya (attitude) dalam menghadapi masalah. Sedangkan sisanya 10 persen ditentukan oleh kemampuan ilmunya (knowledge). Membangun sikap yang positif, proaktif dan progresif jelas membutuhkan pendidikan karakter.
Pendidikan karakter bergerak dari knowing menuju doing atau acting. William Kilpatrick menyebutkan salah satu penyebab ketidakmampuan seseorang berprilaku baik meskipun ia telah memiliki pengetahuan tentang kebaikan itu (moral knowing) adalah karena ia tidak terlatih untuk melakukan kebaikan (moral doing). Mengacu pada pemikiran tersebut maka kesuksesan pendidikan karakter sangat bergantung pada ada tidaknya knowing, loving, dan doing atau acting dalam penyelenggaraan pendidikan karakter. (http://anawinta.wordpress.com)

Moral Knowing sebagai aspek pertama memiliki enam unsur, yaitu kesadaran moral (moral awareness), pengetahuan tentang nilai-nilai moral (knowing moral values), penentuan sudut pandang (perspective taking), logika moral (moral reasoning), keberanian mengambil menentukan sikap (decision making), dan pengenalan diri (self knowledge). Keenam unsur adalah komponen-komponen yang harus diajarkan kepada peserta didik untuk mengisi ranah kognitif mereka.
Moral Loving atau Moral Feeling merupakan penguatan aspek emosi siswa untuk menjadi manusia berkarakter. Penguatan ini berkaitan dengan bentuk-bentuk sikap yang harus dirasakan oleh siswa, yaitu kesadaran akan jati diri, percaya diri (self esteem), kepekaan terhadap derita orang lain (emphaty), cinta kebenaran (loving the good), pengendalian diri (self control), kerendahan hati (humility).

Setelah dua aspek tadi terwujud, maka Moral Acting sebagai outcome akan dengan mudah muncul pada diri peserta didik. Ada pendapat lain yang menegaskan bahwa karakter adalah tabiat yang langsung disetir dari otak, maka ketiga tahapan tadi perlu disuguhkan kepada peserta didik melalui cara-cara yang logis, rasional dan demokratis. Sehingga perilaku yang muncul benar-benar sebuah karakter bukan topeng.
Berkaitan dengan hal ini, perkembangan pendidikan karakter di Amerika Serikat telah sampai pada ikhtiar ini. Dalam sebuah situs nasional karakter pendidikan di Amerika bahkan disiapkan lesson plan untuk tiap bentuk karakter yang telah dirumuskan dari mulai sekolah dasar sampai sekolah menengah.
B.KONSEP DASAR PENDIDIKAN KARAKTER
Pendidikan karakter adalah dua kata yang mempunyai makna berbeda. Pendidikan adalah proses pendewasaan untuk mamanusiawikan manusia melalui proses pembelajaran, sedangkan karakter adalah “Identitas diri” (jatridiri) yang melekat pada sosok masyarakat bangsa dan Negara, yang mempunyai sifat terbuka dan lentur untuk menghadapi perubahan, dan untuk memilah-milah secara kritis.
Prasyarat untuk dapat memanfaatkan keterbukaan yang lentur melalui pendi dikan adalah mengembangkan kecerdasan yang bertumpu pada pengembangan sikap budaya dan orientasi nilai, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta didukung oleh pemerintahan yang juga cerdas, bijak, dipercaya, berwibawa dan arif.
Karakter atau identitas diri berpangkal pada “Culture matters”. Untuk membangun karakter diperlukan sikap dan orientasi nilai-nilai yang kondusif, diantaranya adalah: Sikap, orientasi dan praksis saling percaya (trust bukan prasangka), disiplin kerja keras (Jangan hanya menyalahkan pihak lain), juga intropeksi, hemat cermat, mengutamakan pendidikan, berlakunya rule of law, menimba secara kritis konstruktif sikap hidup bersama, dan identitas kita bersama sebagai suata bangsa (Bung Hata, dalam Yakob Oetama, 2006).
Bertolak dari konsep dasar tersebut, yang dimaksud dengan karakter bangsa  adalah keseluruhan sifat yang mencakup perilaku, kebiasaan, kesukaan, kemampuan, bakat, potensi, nilai-nilai, dan pola pikir yang dimiliki oleh sekelompok manusia yang mau bersatu, merasa dirinya bersatu, memiliki kesamaan nasib, asal, keturunan, bahasa, adat dan sejarah bangsa. Sekurang-kurangnya ada 17 nilai karakter bangsa yang diharapkan dapat dibangun melalui pendidikan. Adapun nilai-nilai karakter bangsa yang dimaksud adalah iman, taqwa, berakhlak mulia, berilmu pengetahuan/berkeahlian, jujur, disiplin, demokratis, adil, bertanggung jawab, cinta tanah air, orientasi pada keunggulan, gotong royong, sehat, mandiri, kreatif, menghargai, dan cakap, dimana nilai-nilai tersebut sudah tercakup dalam Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, yang secara implisit ada kesamaan antara nilai-nilai pada biutir-butir Pancasila dengan nilai-nilai karakter bangsa.
Berdasarkan deskripsi di atas, dapat disimpulkan, bahwa pendidikan karakter melalui proses pembelajaran di sekolah adalah upaya sadar untuk memperbaiki, meningkatkan seluruh perilaku yang mencakup adat istiadat, nilai-nilai, potensi, kemampuan, bakat dan pikiran peserta didik yang mempunyai, integritas ke-Indonesia-an (merasa memiliki dan memproteksi leswtarinya kearifan lokal), dan mempunyai daya saing di pasaran regional dan global.
C. TUJUAN PENDIDIKAN KARAKTER
Tujuan pendidikan karakter terfokus pada 3 (tiga) hal, yakni;
1)    Membangun kepribadian (Personal) berbasiskan nilai dan budaya kearifan local (Indonesia), sesuai dengan kaidah normative yang terkandung dalam Pancasila.
2)    Mengembangkan potensi peserta didik sebagai mahkluk sosial sebagai bekal berinterkasi dengan bangsa-bangsa di tataran regional (Asia) dan internasional (Dunia), dan
3)    Membangun kesadaran peserta didik sebagai mahkluk ciptaan Tuhan, yang dapat hidup serasi dan harmonis bersama citaan Tuhan lainnya (Binatang dan tumbuh tumbuhan) untuk menjamin kelestarian eko system.



D. KERANGKA TEORITIS PENDIDIKAN KARAKTER



E.  POLA PENERAPAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH
Beberapa pola yang dapat digunakan dalam melaksanakan Pendidikan karakter di sekolah (SD dan SMP) adalah sebagai berikut :
1.  Implementasi Pendidikan Karakter ke dalam Berbagai Mata Pelajaran
Materi pembelajaran pendidikan karakter haruslah merefleksikan berbagai kecakapan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karenanya diperlukan rekayasa pembelajaran untuk mengintegrasikan semua pengalaman dalam kehidupan nyata di masyarakat, baik tingkat lokal (nasional),  regional, maupun internsional ke dalam mata pelajaran di sekolah.
Jadi dalam perspektif ini, pendidikan karakter haruslah merupakan kristalisasi dan akomodasi dari berbagai pengalaman hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang seoptimal mungkin dapat diintegrasikan ke dalam materi pembelajaran di berbagai jenis, jenjang, dan jalur satuan  pendidikan/pelatihan  (Khususnya pada jenjang pendidikan dasar), sehingga peserta didik mempunyai bekal dalam menjalani hidup, kehidupan, dan penghidupannya.
Implementasi pendidikan karakter ke dalam mata pelajaran berarti guru harus  mengintegrasikan pendidikan karakter ke setiap mata pelajaran dan ke setiap pokok bahasan yang di belajarkan di sekolah, seperti tampak pada tabel  di bawah ini.

Tabel 01. Pola Integrasi Pendidikan Karakter Ke Dalam Mata Pelajaran di SD


Mata Pelajaran
Komponen Pendidikan Karakter

Moral Knowing
(Cognitif)
Moral Loving/
 Moral Feeling
(Afektif)

Moral Acting/
Moral Doing
(Psikomotorik)

Keterangan
Agama

……………………..
……………………..
……………………..
……………………..
……………………..
……………………..

Moral Knowing:
1.   Kesadaran
2.   Pengetahuan tentang ni lai-ni lai
3.   Penentuan sudut pan dang
4.   Logika moral
5.   Mengambil keputusan dan
6.   Pengenalan diri

Moral Loving:
1.  kesadaran akan ja ti diri,
2.  percaya diri
3.  kepekaan terhadap de rita orang lain
4.  cinta kebenaran 
5.  pengendalian diri 
6.  kerendahan hati

Moral Doing
Prilaku berdasarkan:
1.   olah hati,
2.   olah rasa dan
3.   olah pikir,

PKn

……………………..
……………………..
……………………..
……………………..
……………………..
……………………..

Bahasa Indonesia
……………………..
……………………..
……………………..
……………………..
……………………..
……………………..

Bahasa Inggris (SDBI)
……………………..
……………………..
……………………..
……………………..
……………………..
……………………..

Matematika
……………………..
……………………..
……………………..
……………………..
……………………..
……………………..

IPA
……………………..
……………………..
……………………..
……………………..
……………………..
……………………..

IPS
……………………..
……………………..
……………………..
……………………..
……………………..
……………………..

Penjaskes
……………………..
……………………..
……………………..
……………………..
……………………..
……………………..

PTD (Pendidikan Tehnologi Dasar)
……………………..
……………………..
……………………..
……………………..
……………………..
……………………..

Pengembangan diri

……………………..
……………………..
……………………..
……………………..
……………………..
……………………..

Petunjuk Pengisian: Dengan membubuhkan tanda cek pada setiap kolom yang bersangkutan. Tanda cek satu (v) berarti ada relevansi tetapi kecil, cek dua (vv) cukup besar, dan cek tiga (vvv) untuk yang sangat besar, dan kosong (tidak dibubuhi tanda cek) bila memang tidak terdapat relevansi antara topik bahasan dengan kompetensi pendidikan karakter.

 Tabe 02. Pola Integrasi Kompetensi Pendidikan Karakter Pada Pokok Bahasan
Nama Mata Pelajaran                               : IPS
Pokok Bahasan                          : ………………………….
Kelas                                             : ………………………….
  Kompetensi Pen
     Didikan Karak    
         ter



Pokok
Bahasan




Kecakap an Menge nal diri sendiri
Kecakap
an Berpi kir Rasio nal
Kecakapan
Berkomuni
kasi
Kecakapan
Bekerjasa-
ma
Kesadar an seba gai cipta an Tuhan
Kesadaranmemeliha ra harmo nisasi dg ciptaan Tuhan lainnya
Kecakap an mengi dentifikasi
Kecakapan
merumus-kan dan me mecahkan masa lah
1. .................








2. .................








3. .................








4. .................








Petunjuk Pengisian: Dengan membubuhkan nomor  pada setiap kolom komponen kompetensi
                                     Pendidikan Karakter yang sesuai dengan pokok bahasan, sebagai dasar
                                     untuk menyusun indicator Kompetensi Dasar (KD)

 2.  Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Pendidikan Tehnologi Dasar
Pendidikan karakter selain dapat integrasikan ke dalam berbagai Pokok Bahasan dari setiap Mata Pelajaran, juga dapat diintegrasikan melalui Program Pendidikan Tehnologi Dasar (PTD) yang dilaksanakan di sekolah. Pola kedua ini, dalam implementasinya akan bersinergis dengan pelaksanaan Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill). Oleh karenanya guru dituntut dapat mengelaborasi berbagai komptensi teknis dan Kompentensi Kecakapan Hidup dari setiap kegiatan peserta didik dalam Program Pendidikan Tehnologi Dasar (PTD).



Tabel 03. Pola Integrasi Pendidikan Karakter Dalam PTD.     


    Jenis PTD              : ......................................
    Kelas/Semester     : .............................

         Kompetensi
                PTD                                          
       

Kegiatan
Kecakapan
Pra-Vokasional
Komponen Pendidikan Karakter
Moral Knowing
(Cognitif)

Moral Loving/
 Moral Feeling
(Afektif)

Moral Acting/
Moral Doing
(Psikomotorik)

1.Membersih
  kan kandang


Menyiapkan peralatan




Melaksanakan kegiatan




Membersihkan peralatan




Menyimpan peralatan




2.Memberi
  Makan





3. Mengobati yg sakit





4.Memilih ayam
  yg siap dipo tong





5.Dan seterus
   Nya










Tabel 04. Pola Integrasi Pendidikan Karakter Dalam PTD.

Jenis PTD                : Beternak Ayam Potong
 Kelas/Semester     : VI/1

  Kompetensi Pendidikan Karakter





Pokok
Bahasan
Moral Knowing
(Cognitif)
Moral Loving/
Moral Feeling
(Afektif)
Moral Acting/
Moral Doing
(Psikomotorik)
1.  Kesadaran
2.  Pengetahuan tentang nilai-nilai
3.  Penentuan sudut pan dang
4.  Logika moral
5.  Mengambil keputusan dan
6.  Pengenalan diri
1. kesadaran akan ja ti diri,
2. percaya diri
3. kepekaan terhadap derita orang lain
4. cinta kebenaran 
5. pengendalian diri 
6. kerendahan hati
1. Taat pada tatib/aturan
2. Kadang-kadang tatib/aturan
3. Sering melanggar tatib/aturan
4. Selalu melanggar tatib/aturan
1. .............
2; 5 dan 6
2; 3; 5 dan 6
2
2. .............
dst
dst
dst
3. .............
Dst
dst
dst
4. ..........
dst
dst
Dst

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar